Sesuatu pasti mengandung maslahat ataupun mudharat. Nah, Islam datang dengan syariat yang berasal dari Allah SWT. Syariat apapun yang berasal dari Allah SWT mengandung tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Jadi, tidak perlu dipertanyakan kembali ini itunya dengan alasan apapun. Dalam al-Qur’an dikatakan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Dalilnya sudah ada qath’i, itu berasal dari Allah SWT artinya tidak perlu basa basi, ya kita jauhi riba. Kalau masih tidak yakin riba dilarang dan jelas mengandung mudarat, ini nih ”suspicious” pasti mengambil kesimpulan, jika membawa maslahatnya versi akal pribadi. Selain itu, Allah mutlak melarang zina, zhalim, syirik, mengada-ngada atas nama Allah SWT. Keempat larangan tersebut mutlak dan tidak akan berubah menjadi boleh dalam kondisi apapun. Dalilnya Q.S Al-A'raf ayat 33 , dan masih banyak dalil lainnya. Jadi ikuti saja apa yang disyariatkan kepada kita demi kemaslahatan yang hakiki dan jangan mencari-cari alasan lain. Sudahlah, tidak akan pernah tercapai jika hanya memakai akal sebagai patokan.
Setiap kemaslahatan yang dikehendaki manusia itu sudah tersedia didalam nash, tidak perlu lah mencari yang di luar nash. Manusia hijrah ke bumi sudah diberi manual and SOP dan yang didalamnya terdapat syariat. Ngikut syariat saja lah, jelas membawa maslahat. Nah, aura-aura yang terdeteksi akhir-akhir ini, muncul kasus-kasus kriminalisasi ulama, ada pihak yang panik nih hehehe. Apa hubungannya? Ya jelas ada dong. Seiring berkembangnya zaman, hingga masuk pada fase akhir zaman yang kita rasakan ini buanyak berbagai persoalan yang kita hadapi yang pasti membawa pada kebingungan. Ulama itu mengarahkan kita agar apa yang kita lakukan membawa kemaslahatan. Bagaimana jika para ulama dianggap macam-macam di citrakan buruk, pastilah orang akan merasa kebingungan mana yang dipakai rujukan. Pak lurah, camat, bupati, gubernur, apa Pak Presiden? hehehe hayo siapa? Kalau dirasa ilmu kita masih kurang, apalagi pakai banget, ya sangat perlu seseorang seperti ulama untuk menuntun memahami perintah Allah lewat manual and SOP-Nya. Tetapi, perlu digaris lurusi, berhati-hatilah terhadap ulama-ulama juga, seiring berkembangnya waktu ulamapun bisa menjadi banyak macam. Lah, terus bagaimana mengetahui ulama-ulama yang masih lurus? Inget, nasihat Imam Syafi’i, lihatlah dari perkataan dan perbuatannya, sejalan atau tidak berdasarkan yang disyariatkan oleh Allah SWT. Setelah kita mengetahui bahwasanya setiap syariat mengandung maslahat, ya wajib sami’na wa ato’na lah. Sekian dahulu pembahasan yang sangat singkat, dari pada pembahasan makin panas kita akhiri dulu. Waullahu alam bishowab.


5:55 AM
Fr3ndy
Posted in:
0 comments:
Post a Comment